URGENSI AYAT AYAT AL-QUR’AN YANG BERKAITAN DENGAN MEDIA PENDIDIKAN
Oleh :
Abdul Rahman*
Mahasiswa PAI Pasca Sarjana UIN Mataram
email : rahman.abiemutiara@gmail.com
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam Konteks
kegiatan belajar mengajar, Proses penyampaian suatu informasi dalam kegiatam
belajar-mengajar, akan lebih menarik dan efisien jika dituangkan dalam sebuah
cerita dan ungkapan yang indah [1]. Dalam
Proses pembelajaran yang mengarahkan kepada peningkatan kualitas Pendidikan
berbasis Penafsiran Al-Qurani masih
terlihat berkembang sebagaimana yang
diharapkan. Jumlah Kajian Al-Qur’an yang menitik beratkan sebagai media
Pendidikan masih sedikit jika dibandingkan dengan pendekatan Disiplin Ilmu yang
lain.
Dalam Pada itu,
berbicara tentang Al-Qur’an sesunguhnya memiliki makna yang Luas dalam segala
Dimensi kebutuhan kehidupan Manuasia. Terlebih perkembangan ilmu pengetahuan dan
Teknologi semakin pesatdan dapat sebagai indikator peningkatan Mutu Pendidikan
Agama Islam di berbagai Lembaga Pendidikan Tinggi, menegah maupun Dasar.
Sebenarnya
sebenarnya Upaya peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam sudah cukup lama di
dengungkan dari berbagai kegiatan-kegiatan Work Shop, Seminar-Seminar maupun
pertemuan level dasar Tingkat Pengawas Madrasah Wilayah Tingkat Kecamatan di
ujung Pelosok Nusantara Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun sampai hari
ini, belum bias terlihat karena Proses Media Pendidikan Agama Islam persfektif
Al-qur’an belum diterapkan secara Maksimal. Al-Qur’an mengajarkan kepada kita
tentang pentingnya membaca sebagaimana Firman Allah SWT :
1.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah,
dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya [2].
Al-Qur’an Surat Al-Alaq tersebut diatas
menyampaikan pesan moril bahwa dengan membaca sesuai dengan situasi belajar
yang selalu terkontrol dengan etika Robal ‘alamin akan melahirkan Media Positif
dalam dimensi kehidupan social, ekonomi, politik dan terlebih dalam dunia
Pendidikan.
Dalam
pada itu, Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
semakin mendorong upaya-upaya
pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar, dan
tidak tertutup kemungkinan bahwa media harus disesuaikan dengan perkembangan
dan tuntutan zaman[3].
Dengan
demikian karena dukungan media yang tepat, tujuan pembelajaran dapat tercapai
dengan baik pula. Oleh karena itu, sebuah media pembelajaran akan mempengaruhi
sampai tidaknya suatu informasi secara lengkap dan tepat sasaran, serta
mempengaruhi hasil akhir dari proses pembelajaran tersebut[4].
Meskipun tujuan awal dari pembelajaran itu sudah baik,
akan tetapi jika
tidak didukung oleh
media yang tepat, tujuan yang baik tersebut sangat sulit
untuk dapat tercapai
dengan baik. Dengan menggunakan media dalam pembelajaran akan mempengaruhi
sampai tidaknya suatu informasi secara lengkap dan tepat sasaran, serta
mempengaruhi hasil akhir dari proses kegiatan pembelajaran tersebut.
Nabi
SAW dalam catatan historis kegiatan belajar mengajar atau dakwahnya, sebenarnya
media pembelajaran itu sendiri sudah ada dan sudah diaplikasikan oleh Nabi Saw.
Beliau dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada sahabat sahabatnya tidak lepas
dari adanya media sebagai sarana penyampaian materi ajaran agama Islam.
B. Rumusan dan
Batasan Masalah
Berdasarkan
Latar belakang di atas, dapat dikatakan
bahwa Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan media Pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses
belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan Islam. Dalam tulisan ini
akan dibahas mengenai media pembelajaran dalam persepektif al-Qur’an dan Al-Hadits
dalam pendekatan Tafsirul Qur’an. Agar pembahasan dalam tulisan terarah maka
dikemukakan batasan pembahasan yaitu;
1. Apakah Pengertian Urgensinya Al-Qur’an
sebagai Media Pendidikan ?
2. Apakah Metode Penafsiran yang paling tepat
tentang Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Media Pendidikan ?
3. Bagaimanakah Dasar Pemikiran Penggunaan Media
Pembelajaran ?
4. Nilai Karakter Apakah yang terkandung dalam Ayat-Ayat
Al-Qur’an sebagai Media Pendidikan ?
5.
Apakah Mamfaat Media Pendidikan
Persfektif Al-Qur’an
6. Bagaimanakah Mamfaat dan
Pengaruh Media Pendidikan
C. Tujuan Penelitian
Relevan dengan Rumusan
Masalah diatas, penulisan makalah ini dimaksudkan untuk menjelaskan masalah Urgensinya Ayat-ayat Al-Qur’an dengan
Penjelasan Metode Penafsiran Al-Qur’an dan Hadsit Nabi Saw sebagai Media
Pendidikan. Secara Khusus, makalah ini berusaha mengimformasikan dan
menjelaskan :
1. Urgensinya Al-Qur’an sebagai Media Pendidikan
;
2. Metode Penafsiran yang paling tepat tentang
Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Media Pendidikan ;
3. Dasar Pemikiran Penggunaan Media Pembelajaran
;
4.
Nilai Karakter yang terkandung dalam
Ayat-Ayat Al-Qur’an sebagai Media
Pendidikan ;
7.
Mamfaat Media Pendidikan Persfektif
Al-Qur’an ;
8. Mamfaat dan Pengaruh Media
Pendidikan ;
BAB II
URGENSI MEMBACA AYAT-AYAT PEMBELAJARAN
SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN
A.
PENGERTIAN
URGENSI AYAT AL-QUR’AN YANG BERKAITAN DENGAN MEDIA PENDIDIKAN
1.
Pengertian
Urgensi Al-Qur’an
Urgensi berasal dari Bahasa Latin yaitu
Urgere yang termasuk Kata Kerja yang berarti
mendorong. Dalam Bahasa Inggris Urgent bentuk Kata Sifat yang
berarti Penting. Sedangkan dalam Bahasa
Indonesia Urgensi termasuk istilah yang
menunjuk pada sesuatu yang mendorong kita , memaksa kita untuk di
selesaikan. Dengan demikian mengandaikan ada suatu masalah dan harus di tindak
lanjuti [5].
Sedangkan
Al-Qur’an Secara etimologis Al-Qur’an adalah
mashdar (infinitif)
dari qara-a---yaqra-u—qirâ-atan—qur’â-nan
yang berarti bacaan. Al-Qur’an
dalam pengertian bacaan ini misalnya terdapat dalam firman Allah SWT:
“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami
telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.” (Q.S.
Al-Qiyâmah 75:17-18)[6]
Dalam Konteks Ilmu Nahwu (Tata Bahasa Arab), sebagai mashdar
dengan pengertian bacaan atau cara
membacanya, Qur’an juga dapat dipahami dalam pengertian maf’ûl,
dengan pengertian yang dibaca (maqrû’).
Dalam hal ini apa yang dibaca (maqrû’)
diberi nama bacaan (qur’an)
atau penamaan maf’ûl dengan
mashdar.
Sedangkan
Al-Hâfizh Jalâl ad-Dîn ‘Abd
ar-Rahmân as-Suyûthi
dalam Kitab Al-Itqân fi ‘Ulûm Al-Qur’an mengungkapkan Menurut sebagian ulama seperti
Imam Syafi’i, sebagaimana dikutip As-Suyûthi, Qur’an adalah ism
‘alam ghairu musytâq (nama sesuatu yang tidak ada asal
katanya), merupakan nama khusus untuk firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW, seperti halnya Taurat dan Injil yang juga tidak ada asal katanya.
Jika Qur’an berasal dari kata qara-a berarti
setiap yang dibaca dapat dinamai Qur’an.[7].
Secara terminologis, Al-Qur’an
adalah:
كلامُ اللهِ المنزّلُ
على محمّدٍ صلّى الله عليهِ وسلّم المتلو با التّواترِ والمتعبّد بتلاوتهِ.
“Firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW, yang dibaca
dengan mutawatir dan beribadah dengan membacanya”.
Pengertian terminologis di atas
dinilai cukup untuk mendefinisikan apa itu Al-Qur’an. Penyebutan lafzh
al-jalâlah Allah setelah kalâm
(firman-perkataan) membedakan
Al-Qur’an dari kalâm atau
perkataan malaikat, jin dan manusia[8].
Dengan demikian interpretasi
Urgensinya Alqur’an itu berarti ” pentingnya bacaan Alqur’an sebagai Kalam
Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw“ untuk disampaikan kepada Umatnya sebagai
Media Global dalam pembentukan Karakter Karimah dalam Dunia Pendidikan.
2.
Pengertian
Media Pendidikan
Menurut
Ramli Kata “Media” berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari
kata “medium”, yang secara harfiyah memiliki arti “perantara” atau pengantar
(Yusufhadi Mirso, 1986; 25). Sedangkan Menurut Association For Education and
Communication Technology (AECT), media ialah segala bentuk yang diprogramkan
untuk suatu proses penyaluran informasi [9].
Dalam
pada itu, menurut Education Association, media merupakan benda yang
dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen
yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat
mempengaruhi efektivitas program instruksional (Ahmad Sabri, 2005; 112).
Sedangkan dalam bahasa Arab, media adalah perantara ( وسا
ئل ) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan [10].
Berikut
beberapa pendapat ahli yang tentang Media pendidikan antara lain sebagai berikut
:
1.
Menurut Zakiah
Daradjat, media pendidikan atau pembelajaran adalah suatu benda yang dapat
diindrai, khususnya penglihatan dan pendengaran, baik yang terdapat di dalam
maupun di luar kelas, yang digunakan sebagai alat bantu penghubung (media
komunikasi) dalam proses interaksi belajar mengajar untuk meningkatkan
efektivitas hasil belajar siswa (Zakiah Daradjat, 1995; 226).
2.
Sedangkan
menurut Asnawir dan Basyiruddin Usman dalam bukunya yang berjudul “Media Pembelajaran” menjelaskan bahwa media merupakan
sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan
audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya
(Asnawir dan Basyiruddin Usman, 2002; 11).
3.
Gerlach dan Ely
(1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah
manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu
memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Secara lebih khusus,
pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai
alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan
menyusun kembali informasi visual atau verbal (Azhar Arsyad, 2003; 3) [11].
Dalam
pada itu, kata pembelajaran adalah memiliki akar kata “belajar”. Belajar yaitu
kegiatan berproses yang memiliki unsur yang sangat fundamental dalam
penyelenggaraan setiap jenis jenjang pendidikan. Di samping itu, ada pula orang
yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan
membaca dan menulis (Abdul Wahab Rasyidi, 2009; 15 – 16). Hintzman (1978) dalam bukunya The Psychology of Learning and
Memory, dalam Yudhi Munadi, berpendapat bahwa “learning is a change in
organism due to experience vetch can affect the organism’s behavior”, suatu
perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan, disebabkan
oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organism tersebut (Yudhi
Munadi, 2008; 8 – 9).
Menurut
Ramli, Istilah Media Pembelajaran memiliki beberapa pengertian secara luas dan
secara sempit. Adapun secara luas yang dimaksud dengan media pembelajaran
adalah setiap orang, materi atau peristiwa yang memberikan kesempatan pada
siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Adapun pengertian
secara sempit adalah sarana nonpersonal (bukan manusia) yang digunakan oleh
guru yang memegang peranan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan [12].
Dengan
demikian, Media Pembelajaran merupakan alat bantu dalam bentuk alat-alat grafis,
fotografis, atau elektronis dari suatu benda, sebagai penghubung dari indra
pendengaran dan penglihatan yang bersifat menyalurkan pesan yang dapat
merangsang pikiran, perasaan, untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali
informasi visual atau verbal yang mengarahkan kemauan audien berupa manusia,
materi, atau kejadian sebagai indikator membangun kondisi yang membuat siswa
mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap dalam proses belajar
mengajar untuk mencapai tujuan yang
lebih maksimal.
B.
PENAFSIRAN AL-QUR’<AN
1.
Pengertian Taftsi<ru Al-Qur’an
Secara etimologi tafsi<r bisa berarti
Penjelasan, Pengungkapan, dan Menjabarkan kata yang samar. Sedangkan secara terminologi tafsi<r adalah
penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan
pemahamannya.[13]
Menurut Az Zarqani, Tafsir adalah ilmu
yang membahas keadaan-keadaan Al-Qur’an
yang mulia dari sisi makna yang terkandung dari maksud Allah sebatas kemampuan
manusia. Tafsir merupakan interpretasi umat Islam terhadap Al-Qur’an
dengan berbagai bentuk, metode dan corak[14].
Dalam
pendapat lain, para Ulama mendefinisikan pengertian Tafsir berdasarkan
asal-usul kata, diantaranya :
a.
Tafsir berasal dari kata Al-Fasru,
yang sepadan dengan kata al-idhhar (melahirkan), Al-Bayan (Menerangkan),
Al-Kasfu (mengungkapkan), Al-Ibanah ( Menjelaskan), Al-idhah
(menjelaskan) dan At-tafshil ( merinci).
Berdasarkan
hal tersebut diatas tafsir dapat memberikan arti kata melahirkan, menerangkan,
mengungkapkan, menjelaskan dan merinci.
Ungkapan tafsir yang berasal
dari kata fasara ini dapat dilihat pada hadist Nabi Muhamad SAW. Berikut :
من فسّرَ الْقران برأيه
فليتبوّأ مقعده من النّارِ
Barang siapa menafsirkan
Al-Qur’an dengan akalnya semata maka bersiapsiaplah tempat duduknya di neraka.
(H.R.At-Tirmidzi dari Anas). [15]
Pengertian
dengan arti Tafshil, artinya merinci juga dapat dicermati pada ayat
berikut :
wur y7tRqè?ù't @@sVyJÎ/ wÎ) y7»oY÷¥Å_ Èd,ysø9$$Î/ z`|¡ômr&ur #·Å¡øÿs? ÇÌÌÈ
Dan
mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang
aneh, melainkan kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling
baik. (Q.S. Al-Furqa<n [25]:33) [16].
Esensinya
merinci Al-Qur’an sangatlah injel karena dapat memberikan petunjuk
kebenaran. Menunjukan manayang termasuk Ayat-ayat Muhkamat, Mutasyabihat,
‘A<m, Khas dan seterusnya.
b.
Taftsi<r berasal dari kata At-tafsi<rah
Menurut pendapat Al-Laits yang dikutif oleh
Al-Azhari, tafsi<r berasal dari kata At-Ttaftsi<rah, yaitu, segala
sesuatu yang apabila denganya diketahui penjelasan dan maknanya maka dinamakan
dengan menafsirkanya[17] .
Kemudian menurut H.Rosihon Anwar dan Asep Muharom, Ilmu
Tafsir Taftsi<r
berasal dari kata At-tafsi<rah kerja Safara yang terbalik. Kata As-safr
digunakan untuk menampakan sesuatu yang konkret, tetapi tersembunyi
melalui penglihatan secara kasat mata (indrawi)[18].
Jadi dalam persfektif asal-usul kata Ilmu Taftsi<r
berarti, melahirkan
hidayah baru dengan cara menerangkan,
mengungkapkan, dan menjelaskan secara merinci ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan
spesifikasi pengelompokanya berdasarkan penjelasan Nabi, Sahabat, Tabi’in,
Tab’utabi’i<n sehingga menghasilkan Rumusan pemahaman terhadap isi
kandungan Al-Qur’a<n.
Dalam pada itu, selain definisi Taftsi<r
di artikan dalam persfektif asal-usul kata, juga para ulama dan sahabat
mendefinisikan Ilmu Taftsir dalam beberapa rumusan definisi sebagai berikut :
a. Rumusan Az-Zarkasyi dalam Al-Burhan fi<
Al-‘Ulu<m Al-Qur’a<n
Beliau mengungkapkan : “ Ilmu yang digunakan untuk memahami kitab
Allah yang di turunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW ; untuk menjelaskan
makna-makna kitab Allah; untuk mengeluarkan Hukum-hukum dan hikmah-hikmah yang
terkandung didalamnya, serta untuk menjadikannya sebagai rujukan. Ilmu yang
dimaksud adalah ilmu linguistic, gramatikal, derivasi, retorika, ushulfiqh,
qira’at, asbabunuzul, dan nashikh mansukh.
b. Rumusan Husain Adz-Dzahabi
Ilmu Taftsi<r adalah ilmu yang membahas perihal maksud Allah SWT.
Sebatas daya tangkap yang dimiliki manusia. Ilmu ini meliputi apa saja yang
denganya makna dan maksud Alah (dalam Firma-Nya) dapat diketahui.
c. Rumusan Husain Adz-zarqani dalam Manahil
Al-‘Irfan Fi ‘ulum Al-Qur’an
علمٌ يبحثُ فيهِ عن أحوال الكتابِ
العزيزِ من جهةِ نزوله وسندهِ
وأدائهِ والفاظهِ ومعا نيه
المتعلّقة با لاحكامِ.
Ilmu tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari hal ihwal kitab
yang mulia (Al-Qur’an) dari segi turun, sanad, redaksi, serta makna maknanya
yang berkaitan dengan lafaz dan hukum.[19]
Dengan demikian, secara umum ilmu tafsir
adalah ilmu yang bekerja untuk mengetahui arti dan maksud dari ayat-ayat
al-Qur’an[20].
Kemudian dalam mendalami maksud dan makna
ayat-ayat Al-Qur’an, maka diperlukan menggunakan pendekatan dan metode analisa
yang tepat untuk mencapai kebenaran makna sesuai dengan konten ayat tersebut.
Adapun beberapa metode yang di gunakan antara lain : Tahlili (Meneliti
semua Aspeknya), Ijmali (Global), Muqaran (Konparasi/
Perbandingan) dan Metode Maudhu<’i (Tematik). Namu dalam
hal ini penulis menstressing pada penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengan Metode
Maudhu<’i (Tematik).
2.
Taftsi<ru
Al-Qur’an Metode Maudhu<’i ( Tematik)
Sebelum mendalami makna yang terkandung
dalam ayat-ayat yang berkenan dengan Media Pendidikan. Maka dipandang perlu
untuk mengetahui apa dasar pemikiran definisi makna 2. Taftsi<ru
Al-Qur’an Metode Maudhu<’i (Tematik).
Konklusi pengertian Ilmu Tafsi<r adalah ilmu yang
bekerja untuk mengetahui arti dan maksud dari ayat-ayat al-Qur’an, sedangkan Metode
Maudhu<’i merupakan penafsiran dengan methode tematik yang jelas
belum lama lahir. Al-Jali<l Ahmad As-Sa’ id Al-Qu<mi, Ketua
Jurusan Tafsir di Universitas Al-Azhar mengungkapkan : “ Prosedur Metode Maudhu’i (Tematik)
adalah sebagai berikut :
a.
Menetapkan
masalah yang akan dibahas (topik);
b.
Menghimpun ayat
yang berkaitan dengan masalah tersebut;
c.
Menyusun
runtutan ayat sesuai dengan turunannya, disertai pengetahuan tentang asbab
an-nuzu<l;
d.
Memahami
korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing masing;
e.
Menyusun
pembahasan dalam kerangka yang sempurna (outline);
f.
Melengkapi
pembahasan dengan hadist-hadist yang relevan dengan pokok bahasan;
g.
Mempelajari
ayat-ayat tersebut secara keseluruhan
dengan jalan menghimpun ayat yang mempunyai pengertian sama, atau
mengompromikan antara ayat yang ‘Am (umum) dan yang Khas (khusus),
Mutlaq dan Muqayad (terikat), atau yang pada lahirnya
bertentangan sehinga semuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan atau
pemaksaan [21].
Dengan metode penafsiran ini, menurut
penulis lebih relevan untuk menemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan
media pendidikan.
Setelah mengamati secara jelas urgensi
serta prosedur methode Maudhu’i (Tematik), methode ini merupakan yang
terbaik untuk menafsirkan Al-qur’an. Berikut beberapa ayat yang
berkaitan dengan Media antara lain, Al-Qur’an Surat Al-Isra’ (17) Ayat 84, Al-Qur’an Surat Al-Baqaroh (2)
Ayat 151, Al-Qur’an Surat Al-Alaq (96) : 4-5 Ayat dan Al-Qur’an Surat Al-Isra’ (17) Ayat : 14 .
1)
Konteks Al-Qur’an Surat Al-Alaq (96) : 4-5 Ayat
Yang
Mengajar (manusia) dengan Perantaran kalam (Baca-Tulis), 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya. (Q.S.
Al-Alaq [96]: 4-5 Ayat)
Tafsiru Al-Ay<at Bil Maudhu<’i
Ibnu Katsir mengungkapkan, bahwa “ didalam surat ini terkandung
peringatan yang mengugah manusia kepada asal penciptan manusia, yaitu dari ‘alaqah.
Dan diantara kemulian Alah Swt. Ialah
Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Hal
ini berarti Allah telah memuliakan dan menghormati manusia dengan Ilmu. Beliau melanjutkan :
وأن من كرمه الله تعالى أن علم
الاءنسان ما لم يعلم ، فشرّفه وكرامه بالعلم وهو قدر الذي امتاز به أبو بشرية آدم
على الملائكة ، والعلم تارة يكون في
الأذهان ، وتارة يكون في اللسان ، وتارة يكون فالكتابة باالبنان ذهني ولفظ رسمي.
والرسمي يستلمزهما من غير عكس، فلهذا قال وفى الأثر: (( قيّد العلم
بالكتابة ))، وفيه ايضًا : (( من عمل بما علم ورثه الله علم مالم يكن يعلم)).
“ Hal ini berarti Allah telah memuliakan dan menghormati manusia dengan ilmu.Dan ilmu
merupakan Bobot tersendiri yang membedakan antara Abul Basyar (Adam)
dengan Malaikat. Ilmu itu adakalanya berada di hati, adakalanya berada di Lisan
ada kalanya pula berada di dalam tulisan
tangan. Berarti ilmu itu mencakup tiga
Aspek, yaitu dihati, di lisan dan di tulisan. Sedangkan yang ditulisan
membuktikan adanya penguasan pada kedua aspek lainya, tetapi tidak sebaliknya.
Karena itulah disebutkan dalam firmanya
: Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam. Dia mengajar kepada manusia apa
yang tidak diketahuinya. ( Q.S.Al-‘Alaq [96]: 3-5)[22].
Pada ayat tersebut memiliki penjelasan tematik antara
ayat 4-5 dengan ayat sebelumnya dengan pendekatan makna dari perintah membaca
yang tidak terlepas hubunganya bahwa ilmu mencakup tiga Aspek, yaitu dihati, di lisan
( Bacan/ membaca ) dan di tulisan.
b)
Nilai Karakter
Ayat-Ayat Al-Qur’an sebagai Media
Pendidikan
Berbicara
tentang Al-Qur’an berater tidak terlepas dari konsep pendidikan yaitu membaca
dengan benar sesuai dengan aturan yang ada, berdasarkan nilai regulasi Robbal
‘alami<n. karena mengajarkan membaca adalah pondasi Awal dalam
Pendidikan.
4).
2)
Konteks Surat Al-Isra’ (17) Ayat : 14
Dalam Konteks evaluasi
diri terhadap sikap karakter diri yang relevan dengan amal kreatifitas kita,
ayat Al-Qur’an yang lain ternukil dalam Surat Al-Isra’ (17) Ayat : 14
mengunkapkan :
"Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu
sendiri pada waktu Ini sebagai penghisab terhadapmu". (Q.S.
Al-Isra’ [17] : 14)
a) Tafsiru
Al-Ay<at
Ibnu katsir mengungkapkan : “ Dengan kata lain,
sesungguhnya kamu mengetahui bahwa dirimu tidak dianiaya. Dan tidaklah
dicatatkan atas dirimu kecuali hanya apa-apa yang kamu kerjakan, karena
sesungguhnya kamu ingat segala sesuatu yang telah kamu lakukan. Tiada
seorangpun yang lupa terhadap apa yang telah diperbuatnya, walaupun sedikit.
Pada hari itu setiap orang membaca kitab catatn amal perbuatannya. Ia dapat
membacanya, baik ia dari kalangan orang yang bias baca tulis ataupun orang ummi
( tidak bias baca Tulis)[23].
Pada ayat tersebut memberikan model pendekatan media
Pendidikan tentang keimanan tentang Apresiasi Allah SWT terhadap
hamba-Nya.
b)
Nilai Karakter
Ayat-Ayat Al-Qur’an sebagai Media
Pendidikan
Ayat tersebut memberikan contoh
teladan evaluasi diri pendekatan Hikmah sebagai media pembelajaran. Bahwa
setiap manuasia akan dimintai pertanggung jawabannya. Begitu juga tentang
Proses pembelajaran dalam setiap jenjang pendidikan. Dalam hal ini persfektif
penanaman karaker iman melalui ayat ini dapat dengan cara membaca ayat-ayat yang
berkaitan dengan Hisab dan hari pembalasan sebagai media peningkatan teliti
dalam bertindak sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadist Nabi Saw.
3)
Berikut juga ayat-ayat yang lain seperti :
Al-Qur’an Surat Al-Isra’ (17) Ayat 84
Katakanlah:
"Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing".
Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.[24]
Al-Qur’an Surat
Al-Baqaroh (2) Ayat 151 Allah Swt berfirman :
Sebagaimana
(Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu
Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan
mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan
kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
(Q.S.Al-Baqaroh[2]:151)[25]
Ayat-ayat
tersebut memberikan penjelasan tentang bagaimana Al-Qur’an mengajarkan tentang
Hikmah Ilmu pengetahuan dengan metode membacakan dan mengajak peserta didik
untuk membacaayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan kondisinya.
A.
KEUTAMAN MEDIA
PENDIDIKAN BERDASARKAN HADIST- HADIST NABI MUHAMMAD SAW
Hadist memiliki tempat Strategis dalam berbagai penafsiran isi
kandungan Al-Qura’a<n.
Menurut
Ahmad zacky El Safa, didalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa beliau (Nabi Saw.)
mempunyai otoritas sebagai berikut :
1.
Sebagai
pensyarah (penjelas A-Qur’an)
2.
Memberi Teladan[26]
3.
Nabi Muhammad
wajib ditaati
4.
Pembuat Hukum
(Legislator)
Tentang Tugas memberi teladan atau
Uswah Al-Hasanah ini dijelaskan Allah dalam Firmannya :
Dan ingatlah apa yang
dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu).
Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.
(Q.S.Al-Ahzab : [33]:34)
1. Keutamaan Membaca Al-Qur’an
Diantara keutamaan membaca al-Qur’an antara
lain tersebut didalma hadist-hadist Nabi Muhammad SAW yaitu sebagai : Media Ketenangan dan Membersihkan Hati, Pershabatan Fitrah Suci
dengan Malaikat, dan Media Komunikasi dengan Allah SWT.
a. Media Ketenangan dan Membersihkan Hati
Dari
Al-Barra’ ra., ia berkata : ada seorang laki-laki membaca surat Al-Kahfi yang
ketika itu ada seekor kuda disisinya yang diikat dengan dua tali, lalu ada awan
yang menutupinya, kemudian awan it u terus berputar dan mendekat, sehingga kuda
tersebut lari menjauhinya. Keesokan
harinya, laki-laki tersebut datang kepada Nabi Saw., kemudian ia menuturkan hal
itu lalu bersabda :, “ Itulah Malaikat pembawa kedamaian yang turun karena ada
bacaan al-Qur’an. “ (HR. Muslim)[27].
Adapun Membaca Al-Qura’an sebagai media
penenang Hati berikut penjelasan
Rasulullah SAW sebagai berikut :
Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah
SAW bersabda : “ Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat
jika terkena Air. “ Sahabat bertanya, " Sahabat bertanya : “ wahai
Rasululah, apakah pembersihnya ? Beliau bersabda, “ Banyak mengingat mati
dan membaca Al-Qur’an . (HR.Al-Baehaqi) [28]
Hadist tersebut memberikan hikmah dahsyat dengan
mebaca Al-Qur’an sebagai media penuntun, disamping juga sebagai media membagun
karakter persahabatan Mulya yang suci
dengan malaikat dan media komunikasi dengan Allah Swt. [29]
B.
URGENSI AYAT-AYAT AL-QUR’AN DAN HADIST NABI
SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN
Beberapa
klaster media pembelajaran yang dinyatakan dalam al-Qur’an dan al-Hadits,
sebagai berikut:
1.
Media
Pembelajaran Audio
Media pembelajaran audio adalah media
yang hanya dapat didengar, berupa suara dengan berbagai alat penyampai suara
baik dari manusia maupun immanusia (M. Ramli, 2012; 17). Dalil yang berhubungan
dengan suara sebagai sumber penyampai pesan, dapat diambil dari kata baca,
menjelaskan, ceritakan, dan kata-kata lain yang semakna. Dalam hal ini terdapat
beberapa ayat yang memberikan keterangan adanya media pembelajaran audio di
dalam al-Qur’an, di antaranya surah al-‘Alaq (96); 1, Al-Isra’ (17): 14,
Al-Ankabut (29); 45, Al-Muzammil (73); 20. Berikut ini Al-Muzammil (73); 20:[30]
Artinya:
‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab
terhadapmu".
Kata
lain yang mengisyaratkan penggunaan media audio adalah menjelaskan (asal kata
kerja “jelas”)
3.
Media
Pembelajaran Visual
Media pembelajaran visual
seperangkat alat penyalur pesan dalam pembelajaran yang dapat ditangkap melalui
indera penglihatan tanpa adanya suara dari alat tersebut. Dalam Al-Qur’an surah
Al-Baqarah (2) 31:
Artinya: “Dan Dia
mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang
benar!"
Tentang
Menggunakan gambar Rasulullah Saw bersabda :
Artinya: “Telah menceritakan pada
kami Sodaqoh bin Fadhil, telah memberikan kabar kepadaku Yahya bin Sa’id dari
Sofyan, beliau bersabda: Telah menceritakan kepadaku bapak ku dari Mundzir dari
Robi’ bin Khusein dan Abdullah R.A, Beliau bersabda: Nabi SAWpernah membuat
garis (gambar) persegi empat dan membuat suatu garis lagi di tengah-tengah
sampai keluar dari batas (persegi empat), kemudian beliau membuat banyak garis
kecil yang mengarah ke garis tengah dari sisi-sisi garis tepi, lalu beliau
bersabda: Beginilah gambaran manusia. Garis persegi empat ini adalah ajal yang
pasti bakal menimpanya, sedang garis yang keluar ini adalah anganangannya, dan
garis-garis kecil ini adalah berbagai cobaan dan musibah yang siap
menghadangnya. Jika ia terbebas dari cobaan yang satu, pasti akan tertimpa
cobaan lainnya, jika ia terbebas dari cobaan yang satunya lagi, pasti akan
tertimpa cobaan lainnya lagi. (HR. Imam Bukhori)”
Nabi SAW menjelaskan
garis lurus yang terdapat di dalam gambar adalah manusia, gambar empat
persegi yang melingkarinya adalah ajalnya, satu garis lurus yang keluar
melewati gambar merupakan harapan dan anganangannya sementara
garis-garis kecil yang ada di sekitar garis lurus dalam gambar adalah musibah
yang selalu menghadang manusia dalam kehidupannya di dunia.
1.
Mamfaat Media Pendidikan Persfektif Al-Qur’an
Ada banyak manfaat yang diperoleh dari
menggunakan media pembelajaran dalam
mengajar, di antaranya:
a.
Bahan pelajaran akan lebih jelas
maknanya, sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa
untuk menguasai tujuan pengajaran yang lebih baik.
b.
Metode mengajar akan lebih
bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata
oleh guru, sehingga siswa tidak bosandan guru tidak kehabisan tenaga dalam
memberikan materi pelajaran.
c.
Siswa lebih banyak melakukan
kegiatan belajar, sebab tidak hanya
d.
mendengarkan keterangan guru,
tetapi juga melakukan aktivitas lain seperti mengamati, melakukan,
mendemonstrasikan dan lain-lain.
e.
Pengajaran akan lebih menarik
perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
f.
Memperjelas penyajian pesan agar
tidak terlalu bersifat verbalitas.
g.
Mengatasi keterbatasan ruang
waktu dan daya indera seperti: terlalu besar, terlalu kecil, gerak terlalu
lambat, gerak terlalu cepat, peristiwa masa lalu, kompleks, dan konsep yang
terlalu luas (Darwyn Syah, 2007; 125 – 126).[31]
2. Mamfaat dan Pengaruh Media Pendidikan
Dalam
Konteks Pendidikan Islam, alat atau
media itu jelas diperlukan. Sebab alat atau media pengajaran itu mempunyai
peranan yang besar yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang
diinginkan. Abu Bakar Muhammad
berpendapat, bahwa kegunaan alat atau media itu antara lain ialah:
a. Mampu
mengatasi kesulitan-kesulitan dan memperjelas materi pelajaran yang sulit.
b. Mampu
mempermudah pemahaman, dan menjadikan pelajaran lebih hidup dan menarik.
c. Merangsang
anak untuk bekerja dan menggerakkan naluri kecintaan menelaah (belajar) dan
menimbulkan kemauan keras untuk mempelajari sesuatu.
d. Membantu
pembentukan kebiasaan, melahirkan pendapat, memperhatikan dan memikirkan suatu
pelajaran.
e.
Menimbulkan
kekuatan perhatian (ingatan) mempertajam, indera, melatihnya, memperhalus
perasaan dan cepat belajar (Ramayulis, 2002; 212).[32]
Dengan demikian Media memiliki peranan
Penting demi tercapainya Proses pembelajaran yang Maksimal.
BAB – III
PENUTUP
Demikian makalah tentang
urgensi ayat ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan
Media Pendidikan, semoga memberi mamfaat bagi penulis dan pembaca.
A. KESIMPULAN
1. Bahwa media pendidikan memiliki peranan
sangat penting dalam Proses belajar mengajar dengan pendekatan kajian Tafsir
thematic sehingga menghasilkan sebagai berikut :
a. Mampu
mengatasi kesulitan-kesulitan dan memperjelas materi pelajaran yang sulit.
b. Mampu
mempermudah pemahaman, dan menjadikan pelajaran lebih hidup dan menarik.
c. Merangsang
anak untuk bekerja dan menggerakkan naluri kecintaan menelaah (belajar) dan
menimbulkan kemauan keras untuk mempelajari sesuatu.
d. Membantu
pembentukan kebiasaan, melahirkan pendapat, memperhatikan dan memikirkan suatu
pelajaran.
e. Menimbulkan
kekuatan perhatian (ingatan) mempertajam, indera, melatihnya, memperhalus
perasaan dan cepat belajar yang lebih focus.
2.
Kajian hadist
sebagai penafsir ayat memiliki peranan sangat penting yang memberikan uswah
dalam dunia pendidikan, terlebih dengan pendekatan membaca.
B.
SARAN
Dalam makalah ini, masih ada kajian Qur’an
Hadist yang perlu di tingkatkan dan di perkaya yaitu Refrensi yang berkaitan
secara khusus tentang Media Pendidkan Agama Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Afroni, Sihabuddin. “Teknik Interpretasi dalam
Tafsir Al Qur’an Dan Potensi Deviasi
Penerapannya Menurut Ilmu Dakhil,” Tekni Interpretasi dalam Tafsir Al-Qur’an,
t.t., 70.
Al-Dimashqi,
Al-Imam Al-Hafez Ibn Kathir. Tafsir Ibnu Katsir : Tafsiirul Qur’an Al-Azim.
Beirut Lebanon: Dar Al Kotob Al-Ilmiyah-Beirut, 2017.
Al-farisi, Rudi
Arlan. “Ilmu Tafsir.” Blog. Ulumul Qur’an (blog), 2 Maret 2009.
http://ulumulstai.blogspot.com/2009/03/ilmu-tafsir.html.
Anwar, H.Rosihon,
dan Asep Muharom. Ilmu Tafsir. Bandung: Pustaka Setia, 2015.
Bakhtiar, Anggun.
“Pengertian Urgensi.” Angun Nessay90 (blog), 29 September 2012.
https://anggunessay90.wordpress.com/2012/09/29/pengertian-urgensi/.
Dasuki, Hafidz,
dan Quraish Shihab. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: PT.Sinergi Pustaka
Indonesia, 2012.
El-Syafa, Ahmad
Zacky. Indeks Lengkap Hadist: Cara Praktis dan Mudah menemukan Hadist Sesuai
Tema dari A-Z. Yogyakarta: Mutiara Media, 2012.
Ilyas, H. Yunahar.
Kuliah Ulumul Qur’an. Yogyakarta: ITQAN Publishing, 2014.
Munir, Ahmad. Tafsir
Tarbawi : Mengungkap Pesan Al-Qur’an tentang Pendidikan. Ponorogo: STAIN
Ponorogo Press, 2007.
Ramli, M. “Media
Pembelajaran dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadits.” Ittihad Jurnal
Kopertais Wilayah XI Kalimantan 13, no. 23 (2015).
[1] Ahmad Munir, Tafsir
Tarbawi : Mengungkap Pesan Al-Qur’an tentang Pendidikan (Ponorogo: STAIN
Ponorogo Press, 2007), 123.
[2] Hafidz
Dasuki dan Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta:
PT.Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), 904.
[3] M.
Ramli, “Media Pembelajaran dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadits,” Ittihad
Jurnal Kopertais Wilayah XI Kalimantan 13, no. 23 (2015): 139.
[5] Anggun Bakhtiar, “Pengertian
Urgensi,” Angun Nessay90 (blog), 29 September 2012,
https://anggunessay90.wordpress.com/2012/09/29/pengertian-urgensi/.
[6] H. Yunahar Ilyas, Kuliah
Ulumul Qur’an (Yogyakarta: ITQAN Publishing, 2014), 15.
[7] Ilyas, 16.
[8] Ilyas, 16.
[9] Ramli, “Media Pembelajaran
dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadits,” 132.
[10] Ramli, 132.
[11] Ramli, 132.
[12] Ramli, 132.
[13] Rudi Arlan Al-farisi, “Ilmu
Tafsir,” Blog, Ulumul Qur’an (blog), 2 Maret 2009,
http://ulumulstai.blogspot.com/2009/03/ilmu-tafsir.html.
[14] Sihabuddin Afroni, “Teknik
Interpretasi dalam Tafsir Al Qur’an Dan
Potensi Deviasi Penerapannya Menurut Ilmu Dakhil,” Tekni Interpretasi
dalam Tafsir Al-Qur’an, t.t., 70.
[15] H.Rosihon Anwar dan Asep
Muharom, Ilmu Tafsir (Bandung: Pustaka Setia, 2015), 14.
[16] Anwar dan
Muharom, 14.
[17] Anwar dan
Muharom, 15.
[18] Anwar dan
Muharom, 15.
[19] Anwar dan
Muharom, 19.
[20] Anwar dan
Muharom, 18.
[21] Anwar dan
Muharom, 166.
[22] Al-Imam Al-Hafez Ibn Kathir
Al-Dimashqi, Tafsir Ibnu Katsir : Tafsiirul Qur’an Al-Azim (Beirut
Lebanon: Dar Al Kotob Al-Ilmiyah-Beirut, 2017), 459.
[23] Al-Dimashqi,
27.
[24] Dasuki dan Shihab, Al-Qur’an
dan Terjemahannya, 396.
[25] Dasuki dan
Shihab, 28.
[26] Ahmad Zacky El-Syafa, Indeks
Lengkap Hadist: Cara Praktis dan Mudah menemukan Hadist Sesuai Tema dari A-Z
(Yogyakarta: Mutiara Media, 2012), 72.
[27] El-Syafa,
168.
[28] El-Syafa,
168.
[29] El-Syafa,
168.
[30] Ramli, “Media Pembelajaran
dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadits,” 157.
[31] Ramli, 150.
[32] Ramli, 151.
Komentar
Posting Komentar